• Jelajahi

    Copyright © KABARPATROLI.ID - Media Berita Online Terpercaya
    Best Viral Premium Blogger Templates

    PENGGILA ATAU ORANG GILA? 'CERPEN'

    Riyan Hero
    Selasa, 17 Maret 2020, 12:59:00 AM WIB Last Updated 2020-03-16T17:59:24Z

     Judul : Penggila Atau Orang Gila?
    Di Tulis Oleh: Livia Ervita

    °° Agustus 2016""
     Matahari sudah tepat di atas kepala. Anak sekolah dasar sebentar lagi akan pulang. Namun berbeda dari Minah yang masih asik terlelap di atas kasur. Bantal guling dengan ujung bagian atas bergambar wajah aktor Korea tengah dipeluknya rapat-rapat.
    "Ya ampun anak gadis Emak jam segini masih sibuk sama mimpinya. Bangun, mandi, terus dandan yang cantik biar cepat dapat jodoh!" teriak Emak menyibak selimut Minah yang membungkus tubuhnya secara sempurna.

    Minah hanya menggeliat dan membuka sebelah mata, lalu tidur lagi. Emaknya berdecak berusaha meraih guling yang merekat erat dalam pelukan. Sekeras apapun, cengkeraman Minah justru semakin kuat.
    "Minah tadi malam begadang nonton Song Joong Ki Oppa, Mak. Biarkan Oppa dipeluk dulu."

    Emaknya kian geram melihat anak gadisnya sudah mulai tidak waras setelah tiap malam nonton drama orang yang bening-bening itu.
    "Orang ganteng tidak mungkin suka sama orang bau," ucap Emak meninggalkan Minah yang tak kunjung bangun.

    Menyadari ucapan Emaknya, Minah segera berlari menuju kamar mandi. Ia tidak ingin pria idamannya kecewa atas penampilannya.
    Saat makan siang yang sebenarnya sarapan bagi Minah, tangannya sibuk pada sendok di piringnya sedangkan mata melekat pada layar Tv. Sang Emak yang tak habis pikir tentang perilaku anaknya yang di ambang batas wajar, secepatnya mematikan Tv yang menyala.

    "Kok di matiin sih, Mak?" kesal Minah, "Jin Goo bulan depan bakal datang ke Indonesia. Minah mau nonton ya, Mak"
    "Terus kamu mau nonton buat apa? Jangan habiskan uang dengan segala sesuatu mengenai plastik-plastik itu," sahut Emaknya. Minah hanya menunduk menahan kesal dan melanjutkan makan.

    "Mereka tidak tahu siapa kamu, Nak. Jadi jangan buang waktumu demi Oppa yang menurutmu segalanya itu." Emak menatap dan mengelus rambut Minah dengan lembut.
    "Tapi Minah jatuh cinta pada Song Joong Ki, Mak." Ucapan Minah membuat Emaknya terbatuk tak percaya. Mana mungkin rasa cinta tumbuh lewat layar kaca. Emak bingung sebenarnya yang salah itu Minah atau Tvnya.

    "Minah, Emak yakin jika cintamu hanya bertepuk sebelah tangan. Tidak mungkin aktor luar negeri akan membalas perasaanmu. Sekalipun kamu berjodoh nanti, wanita seluruh dunia yang menjadi penggenar pria itu tidak akan tinggal diam. Bangunlah, jalani hidupmu yang nyata. Jangan selalu mendekam di rumah." Cercaan Emak rupanya membuat Minah merasakan pedih.

    "Baiklah, jika menurut Emak begitu. Minah tidak akan mendekam di rumah terus. Minah akan kerja ke Korea," sahut Minah setelah meletakkan piringnya yang sudah kosong pada tempat pencucian.

    Emak menghela napas berat menatap punggung Minah yang tertelan pintu kamarnya. Ia tahu anak delapan belas tahun seperti Minah masih dalam masa kelabilan. Suatu saat nanti Emak yakin putri semata wayangnya itu akan memiliki pemikiran yang lebih masuk akal. Bukan tak sayang, justru dirinya akan merasa terluka jika Minah menautkan hatinya pada pria yang sangat mustahil membalas cintanya. Emak pun pernah muda, ia tahu rasanya bertepuk sebelah tangan itu sangat menyakitkan.

    Sementara di kamar, satu dari delapan celengan ayam sudah Minah korek isinya. Ia akan gunakan sebagian untuk melihat Jin Goo yang sebentar lagi ke Jakarta. Baginya bila ia bertemu dengan Jin Goo, kesempatan untuk bertemu dan mengenal Song Jong Ki akan semakin besar. Di saat pandangan Minah menyapu seluruh celengan ayamnya, sebuah pikiran terlintas.

    "Bagaimana bila kugunakan seluruh uang ini untuk pergi ke Korea? Bukankah kesempatan meraih hati Oppa jauh lebih besar?" pikirnya.


    Namun Minah tahu Emaknya pasti menolak semua itu. Padahal jauh dari sepengetahuan Emaknya, Minah hanya ingin bahagia dan memberikan menantu yang juga membahagiakan keluarganya. Meski sangat konyol atau bahkan terbilang gila, setidaknya Minah mempunyai hati yang juga ingin merasakan indahnya cinta.

    Malam ini begitu dingin. Di tambah dengan Emak yang sepertinya tidak mengacuhkan Minah. Biasanya saat langit menuju senja, Emak akan meninggikan suara agar Minah segera mandi. Sedangkan tadi jangankan menyuruh mandi, lauk untuk makan malam masih sama dengan tadi pagi. Sepertinya Emak masih marah.

    Minah tidak ingin hubungan keluarganya menjadi keruh. Apalagi mereka hanya tinggal berdua setelah kepala keluarga mereka berpulang dua tahun lalu. Ini salah satu alasan Minah tidak kuliah dan memilih membantu Emaknya membuka toko.

    Minah menghampiri Emak yang duduk di pelantaran rumah dengan tatapan kosong.
    "Di luar dingin, nanti Emak sakit," pinta Minah sambil meletakkan sebuah jaket pada bahu Emaknya. Tidak ada yang bersuara, kecuali desiran angin malam yang membuat gigil mulai mengebungi.

    "Maafkan Minah, Mak." Minah tidak tahu harus bagaimana bila Emaknya memilih bungkam padanya. Ia tak mau malaikat mengutuknya karena menorehkan luka.
    Tanpa disadari, mata Emak mulai meremang.
    Sekuat tenaga menahan agar air bah yang menenggelamkan bola matanya tak membanjiri pipi.

    "Apa kamu benar-benar ingin ke Korea?" tanya Emak dengan suara sedikit serak menahan tangis. Minah hanya menoleh tanpa menjawab. Karena jawaban apapun yang akan keluar hanya akan membuat dosa.
    "Emak tahu kamu sudah memecahkan delapan celengan ayammu. Pergilah asal kamu bahagia."

    Mata Minah membulat. “Maksud Emak?"
    Setetes air mata mulai keluar dari persemayamannya.
    "Emak takut kamu bertambah tidak waras jika terus di dalam rumah dan membusuk dengan cinta yang konyol itu. Jadi pergilah dan raih semampumu. Suatu saat jika kamu sudah mendapatkannya, pulanglah. Emak menunggumu di rumah."
    Mulut Minah ternganga mendadak lidahnya terasa kelu. Rasa bahagia dan sedih bercampur haru. Ia segera memeluk wanita yang mulai tampak kerutan dan ubannya. Wanita yang kini merestui keputusan terbesarnya.
    ---

    ""Juli 2017""
    Cuaca di negara yang mendapat julukan negeri ginseng ini sedang membakar, mengingat musim panas di sini masih berlangsung. Namun hati Minah jauh lebih membara. Sejak pagi hingga petang ini dia sudah ganti baju empat kali karena keringat membanjiri tubuhnya. Bukan hanya karena cuaca, faktor utamanya adalah saat mendengar berita Song Joong Ki sudah melamar Song Hye Kyo. Ia tidak habis pikir jika pemain utama--drama yang sering membuatnya begadang--akan saling menyintai hingga ke dunia nyata.

    Setelah pulang dari kerja paruh waktunya sebagai pengantar minuman, ia berencana akan ke kantor pusat Blossom Entertainment. Meski sering di usir oleh penjaga keamanan di sana, rasa tertusuk duri di hatinya kali ini jauh lebih menyakitkan.


    Minah bertahan selama di Korea karena ia merasa lebih dekat dengan pria idamannya. Walapun berulang kali gagal bertemu Song Joong Ki karena selalu dihalangi oleh si asisten, Minah tetap kuat. Tidak mudah baginya sampai ke titik ini.

    "Min Ah, kamu sudah mendengar beritanya?" tanya seorang wanita bermata sipit dengan rambut merah maroon. Minah mengangguk lesu.
    "Apa yang kamu rencanakan?" tanyanya lagi.
    "Aku akan pergi ke agensi itu lagi."
    "Lebih baik kamu pulang saja. Di usir karena dianggap orang gila itu menyakitkan."
    "Dahyun!"

    Ingin sekali Minah menarik rambut gadis yang sering memakai bando kelinci itu. Jikalau dia bukan teman yang fasih berbahasa Indonesia, Minah malas berurusan denganya. Namun Minah harus tetap kuat karena bahasa Koreanya masih belum sempurna.

    Dengan memakai jaket hoodie berwarna hitam, Minah melangkahkan kakinya menuju pintu utama kantor agensi yang menaungi Song Joong Ki. Beruntung Minah memakai masker untuk menutupi hidung dan wajahnya agar tak dikenal oleh penjaga di sana. Karena sebelumnya Minah bahkan dihadang saat baru menginjak halamannya.

    Wajah Minah sepertinya mudah dikenal. Ia tidak tahu apakah pria yang membuatnya gila itu ada di kantor ini atau tidak. Ia hanya mengikuti kata hatinya yang meminta untuk menunggu pada salah satu kursi yang tersedia di ruang tunggu. Meminta nona yang bertugas sebagai penyampai pesan pun terasa tak berarti. Mereka hanya akan menuruti pengunjung yang sudah memiliki janji.

    "Emak, jawaban dari seluruh doa akan tiba malam ini," ucap Minah menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit.
    Sepasang kaki berhenti di depannya. Minah tersenyum dan sangat berharap jika pemilik kaki itu adalah pria yang menggenggam kebahagiaannya. Perlahan ia mendongak. Seketika senyumnya memudar saat mengetahui pria itu adalah penjaga keamanan yang sering mengusirnya.

    "Kamu datang lagi, Nona? Sudah berapa kali harus saya katakan jika Anda membuat kekacauan karena ingin bertemu dengan Tuan Song Joong Ki, Anda akan kami kirim kepada pihak yang berwajib," ancamnya berbahasa Korea sembari berdecak pinggang.


    "Izinkan aku bertemu dan berbicara dengannya sekali saja. Ini akan menjadi yang terakhir. Aku mohon," jawab Minah sambil menangis saat pergelangan tangannya ditarik paksa.
    Lagi, keributan tak bisa dihindari. Namun Minah harus mengungkapkan dan mendapatkan jawabannya malam ini.

    "Aku harus bertemu dengan Song Joong Ki!" teriak Minah.
    "Anda ingin bertemu saya, Nona?" tanya seseorang dari balik punggung.
    Segera Minah berbalik dan tak terasa air mata mulai membasuh wajahnya. Pria itu akhirnya berada di depan mata tanpa penghalang apapun.

    Song Joong Ki mengajak Minah untuk duduk pada tempat yang tadi dipakai menunggu. Dua buah Coffe Cup berada dalam genggaman masing-masing. Gadis itu tidak menyangka akan berdampingan dengan idolanya. Duduk di samping seorang bintang yang penuh cahaya. Duduk bersama dengan calon suami orang.

    "Siapa namamu? Cepat katakan apa alasanmu bersikeras ingin menemuiku? Kudengar ini bukan kali pertama kamu datang ke sini." Suara pria itu bagai api unggun di tengah malam. Hangat sekali.
    "Namaku Min Ah, aku mencintamu," Song Joong Ki mengangkat alisnya, "Neoreul neomu saranghae, Oppa."

    Minah tidak bisa menahannya. Jika tak diungkapkan sekarang, rasa menyesal pasti akan menghantui untuk selamanya. Song Joong Ki hanya tersenyum setelah terperanjat mendengar akuan yang tidak tahu malu itu.

    "Bulan Oktober nanti aku akan menikah dengan Nona Song Hye Kyo. Sebagai gadis yang selalu mengikuti kisah hidupku, kamu pasti sudah mengetahuinya, bukan?" tanyanya yang lebih tepat sebagai pernyataan penolakan.

    "Jadi Oppa tidak membalas cintaku?" Bodoh sekalinya Minah sampai memastikan sejauh ini. Pria yang berjarak beberapa senti darinya ini mengangguk. Pedih tentu saja.
    "Kamu gadis manis yang sepertinya berasal dari negara tetangga. Jangan tutup masa depanmu hanya karena aku. Kamu masih muda, Oppa yakin kamu akan mendapatkan pria yang lebih baik," jawabnya mengacak rambut Minah.

    Seketika rasa pedih itu menghilang berganti rasa aneh atas perlakuannya.
    "Oppa masih ada urusan. Kamu harus tetap semangat hidup di Korea. Datanglah ke acara pernikahan Oppa dengan Nona Song Hye Kyo nanti," pintanya dengan meletakkan sebuah undangan lalu memeluk gadis polos itu.
    Minah membeku.

    Bintang yang bersinar itu memeluk sebuah kerikil berdebu seperti dirinya. Song Joong Ki meminta ponsel lalu mengambil gambar bersama. Sejenak air mata Minah menetes saat tangan pria itu melambai pergi keluar menuju pintu utama. Rasa hangat menyelubungi hati. Mungkin Minah satu-satunya manusia yang paling bahagia saat cinta bertepuk sebelah tangan.
    ---

    ""Akhir Oktober 2017""
    Musim gugur itu indah. Tidak dingin, juga tidak panas. Daun-daun mulai mengering dan berjatuhan. Hati Minah pun begitu, mulai menerima takdir karena ini memang terbaik untuknya. Sebuah gaun berwarna biru nuda membungkus kulitnya untuk menghadiri sebuah acara yang dinantikan oleh penggila drama Korea.

    Pasalnya salah satu bintang ternama menggelar pernikahan dengan lawan mainnya yang jauh lebih cantik dari Minah. Mereka pasangan yang sangat serasi. Minah bahkan merutuki diri sendiri karena pernah mencoba menjadi pengacau. Namun kali ini tidak lagi. Gadis itu bahagia saat pria idamannya tidak membalas cintanya.

    "Emak, aku mendapatkan jawabannya. Cinta memang harus diperjuangkan sekalipun mustahil dapat diwujudkan. Akan tetapi, kebahagiaan orang yang disayang justru harus diutamakan," ucap Minah menaiki anak tangga ke sebuah gedung mewah yang melangsungkan resepsi pernikahan Song Joong Ki dan Song Hye Kyo.


    Probolinggo, 09 Oktober 2017 (12.34 WIB)


    • E-Mail Redaksi : kabarpatroli@gmail.com
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    KRIMINAL

    +