• Jelajahi

    Copyright © KABARPATROLI.ID - Media Berita Online Terpercaya
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Keris Kyai Nogo Siluman Milik Pangeran Diponerogo Kembali Ke Indonesia Dari Belanda

    Riyan Hero
    Rabu, 11 Maret 2020, 3:38:00 PM WIB Last Updated 2020-06-28T12:33:02Z
    JAKARTAKABARPATROLI.ID -  kunjungan raja dan ratu Belanda, Raja Willem Alexander dan Ratu Maxima, ke Indonesia pada 10-13 Maret 2020, terselip kabar gembira, karena keris pusaka Pahlawan Nasional, Pangeran Diponegoro, yang bernama Kyai Nogo Siluman, dikembalikan Pemerintah Belanda ke Indonesia. Padahal, hampir 137 tahun keris itu tak diketahui keberadaannya.

    Museum Nasional Kebudayaan Dunia (National Museum Van Wereldculturen/NMVW) Belanda telah merilis penemuan keris tersebut yang sangat dicari itu. Bahkan, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Inggrid van Engelshoven, sudah menyerahkan keris itu kepada Duta Besar RI untuk Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja, di Den Haag, pada tanggal 3 Maret 2020 lalu.

    Keberadaan keris Kyai Nogo Siluman memang sudah puluhan tahun dicari. Hingga akhirnya pihak NMVW melakukan penelitian kembali sejak 2017 hingga 2019. Penelitian itu dilakukan terhadap beberapa keris yang tersimpan di Museum Volkenkunde atau Museum Etnologi di Leiden. Keris tersebut sudah tak terlacak catatan informasinya sejak tersimpan di museum itu pada 1884.

    Pieter Pott, kurator dan Direktur Museum Volkenkunde, yang melakukan pencarian keris itu. Pencarian sebelumnya juga dilakukan oleh Prof. Susan Legene dari Vrije Universiteit Amsterdam, Johanna Leifeldt (1917), dan Tom Quist (2019). Saat itu mereka menemukan tiga keris yang diduga milik Diponegoro. Tapi, kedua keris yang ada dinyatakan bukan milik Diponegoro. Mereka lalu fokus meneliti satu keris milik Diponegoro dan menemukan dokumen penting untuk memperkuatnya.

    Dokumen pertama berupa surat korespondensi antara De Secretaris van Staat dengan Directeur General van Het Department voor Waterstaat, Nationale Nijverheid en Colonies antara tanggal 11-15 Januari 1831. Keris itu dibawa utusan panglima militer Hindia Belanda, Letnan Gubernur Jenderal Hendrik Merkus Baron van De Kock, yaitu Kolonel Jan-Baptist Cleerens, untuk diserahkan kepada Raja Belanda Willem I.

    Keris Kyai Nogo Siluman sebagai simbol kepemimpinan Pangeran Diponegoro dibawa Cleerens dengan menumpang kapal laut “Ons Genoegen” dari Batavia (Jakarta) ke Belanda pada tanggal 14 September 1830. Menurut surat kabar The Javasche Courant dan Opretage Haarlemsche Courant, Cleerens tiba di Roadstead Texel, Amsterdam pada tanggal 29 Desember 1830.

    Pada 11 Januari 1831, keris tersebut diserahkan kepada Raja Belanda dan disimpan di Koninklijk Kabinet van Zeldzaamheden (KKVZ) atau Kabinet Kerajaan untuk Barang Antik. Tapi tahun 1883, KKVZ dibubarkan. Sejumlah koleksi benda bersejarah termasuk keris Kyai Nogo Siluman diserahkan ke Museum Volkenkunde. Sayangnya, ketika diserahkan, catatan katalog sejumlah koleksi termasuk keris Diponegoro hilang. Padahal, keris tersebut sempat dipamerkan di Philadelphia, Amerika Serikat, tahun 1876.

    Dokumen kedua berupa surat kesaksian panglima perang Diponegoro, yaitu Sentot Alibasyah Prawirodirdjo, yang ditulis dalam bahasa Jawa dan disadur dalam Bahasa Belanda pada tanggal 27 Mei 1830. Sentot menyebutkan melihat sang pangeran memberikan keris Kyai Nogo Siluman kepada Kolonel Cleerens. Dokumen ketiga adalah catatan keterangan Raden Saleh, pelukis Indonesia yang juga melukis kisah penangkapan Diponegoro, untuk memastikan keris Kyai Nogo Siluman itu.

    Pada tanggal 17 Januari 1831, Raden Saleh, menjelaskan makna serta ciri fisik keris Kyai Nogo Siluman. Kata ‘Kyai’ adalah gelar penghormatan seperti kata ‘tuan’. ‘Nogo’ (naga) adalah simbol pemimpin orang Jawa. ‘Siluman’ simbol bagi yang memiliki kemampuan tinggi dan bisa menghilang. Keris memiliki luk (lekuk) 13, gandhik bentuk kepala naga dengan mahkota, sumping, kalung, dan badan naga berlapis emas. Keris itu simbol agar pemimpin tidak sewenang-wenang, karena semua yang dimilikinya adalah samparan ing urip (titipan sementara).


    Ketiga dokumen sesuai dengan identifikasi keris bernomor seri RV-360-8084 tersimpan di Museum Volkenkunde, Leiden, sebagai Kyai Nogo Siluman. Keris juga sudah diverifikasi tim dari Vienna, Austria, yang dipimpin Dr Habil Jani Kuhnt-Saptodewo pada Januari 2020. Juga diverifikasi tim Indonesia pada Februari 2020 yang terdiri dari Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan Kemendikbud), Sri Margana (ahli sejarah UGM Yogyakarta), Bonnie Triyana (sejarawan dan jurnalis), dan Dubes RI untuk Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja.

    Dalam proses verifikasi sempat terjadi perbedaan pendapat. Pihak Belanda awalnya memperkirakan ukiran gambar binatang dalam bilah keris sebagai Singa, Harimau dan Gajah. Namun setelah dilihat langsung oleh ahli sejarah Margana, dapat dipastikan bahwa binatang yang diinterpretasikan sebagai Gajah, Singa atau Harimau itu sebenarnya adalah Naga Siluman Jawa.

    Setelah memimpin Perang Jawa (Java Oorlog) antara 1825-1830, Diponegoro, putra Sultan Hamengku Buwono III yang memiliki nama Bendoro Raden Mas Muhtasar atau Bendoro Raden Mas Ontowiryo ditipu dan ditangkap oleh pasukan Hindia Belanda pimpinan De Kock di Kedu, Jawa Tengah, 28 Maret 1830 atau 2 Syawal 1245 Hijriyah. Diponegoro langsung dibawa ke Batavia sebelum diasingkan ke Manado dan Makassar hingga wafat pada usia 69 tahun, 8 Januari 1855.

    Selain keris Kyai Nogo Siluman, Diponegoro juga memiliki keris Kyai Wiso Bintulu, tapi sudah dikembalikan ke Keraton Yogyakarta sebelum memimpin Perang Jawa. Menurut ahli sejarah Peter B Carey, dalam bukunya “Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro 1785-1855”, Diponegoro selalu membawa keris Kyai Abijoyo pemberian ayahnya dan keris Kyai Ageng Bondoyudo. Saat wafat, keris Kyai Ageng Bondoyudo ikut dikuburkan bersama jasad Diponegoro.

    Sejarawan yang telah menghabiskan puluhan tahun meneliti Diponegoro itu mengatakan, keris Kyai Nogo Siluman tampaknya bukan salah satu pusaka Diponegoro yang paling berharga, karena keris itu tidak pernah disebut dalam autobiografinya yang berisi 1.100 halaman, Babad Diponegoro (1831-1832). Keris itu juga tidak terdaftar di antara tombak pusaka dan belati berharga yang dibagikan kepada keluarganya oleh otoritas kolonial Belanda setelah penangkapannya.

    Bagaimana keris itu sampai ke Cleerens, yang kemudian menyerahkannya kepada Raja Willem I pada Januari 1831, menurut Peter masih misteri. Namun orang memang bisa membuat spekulasi, mengingat Cleerens adalah petugas yang bertugas membuka ‘negosiasi damai’ dengan sang pangeran pada pertengahan Februari 1830, dan Diponegoro mempercayainya.

    Yang jelas, memang masih banyak bekas peninggalan Diponegoro yang berada di Belanda. “Keris dan barang Pangeran Diponegoro itu memang masih banyak di Belanda. Jadi ada yang di museum dan ada yang di kolektor orang Belanda,” kata RA. Miranda Diponegoro, Ketua Ikatan keluarga Diponegoro sekaligus pengurus Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional.


    Tongkat pusaka Kyai Cokro milik Pangeran Diponegoro yang selama ini disimpan keluarga Baud telah diserahkan ke Indonesia tahun 2015. Lalu pelana kuda hitam bernama Ki Gentayu dan tombak bernama Kyai Rodhan juga telah dikembalikan Ratu Juliana ke Indonesia tahun 1978 yang merupakan hasil Kesepakatan Budaya Belanda-Indonesia yang ditandatangani tahun 1968.

    "Perjalanan panjang keris ini patut kita syukuri, agar anak cucu kita masih bisa melihat benda-benda pusaka peninggalan para pahlawan nasional saat melawan penjajah."

    Sumber Di Ambil Dari Detik dan berbagai sumber Lainnya.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini

    KRIMINAL

    +